Mem-Bebek
Bener kali ya.Kalo pembacaan buku yang kedua kalinya itu bikin kepala kita lebih gampang menangkap pesan-pesan yang tersurat didalamnya.Pembacaan buku yang kesatu,membuka sekat-sekatnya dan yang kedua ngambil cahaya dari sekat yang udah di buka tadi.Mmmmhhh,make sense kayak-nyah.
Kayak tadi sore contohnya,2 jam sebelum berbuka puasa dan nggak ada kerjaan.Akhirnya,membuka kembali buku lama.My Self Scumbag Beyond life and Death karangannya Kimung.Dengan alasan kayaknya seru sore-sore sambil ngabuburit baca buku yang based on true story.Padahal kalo dipikir-dipikir,ada 2 buku baru yang masih terbungkus plastik,tercecer-cecer di rak.Winnetou IV-nya Karl May sama satu lagi buku tipis dapet hasil diskon gede-gedean minggu kemarin.Esey-esey sunda santey
(Alasan lainnya mungkin : Kalo gua buka plastik itu buku dua sekarang-sekarang.Lha,pas ntar liburan gua baca apaan dong ? 1001 arti mimpi dan Mujarobat ? Iiiiihhhhh…serem kali)
Ivan ‘Scumbag’ Firmansyah sebagai tokoh central di buku ini.Dalam pembacaan kali ini lebih mengena di hati,lebih kerasa nuansa junkie-nya.Scene-scene dipanggungnya,prosesi bermusiknya, dan ritual pembuatan klip bareng Fadly-padi di Tiga Titik Hitam pun dengan gampang di cerna oleh kepala.Distorsi gitar dan suara saut-menyaut antara Ivan dan Fadly sekarang terdengar jelas oleh mata.
Lebih dari itu juga.Keidealisan Ivan,konsistensinya.Dan cara berpikirnya yang realistis adalah tiga hal yang ingin gua capai saat ini.I means,kadang gua tuh sukanya slang-sling.Diawal perjalanan kadang idealisme ini lebih tebel dari yang pernah terpikirkan dikepala tentang idealisme.Tapi,dalam perjalanannya,nggak tahu kenapa, si-idealisme itu terkikis tipis.Ntah karena kebutuhan ataupun karena big fat ass man with a bucks on his pocket yang bikin ‘gambar-gambar’ yang sedang di skets-in ini jadi selalu ngikutin mainstream yang gua nggak suka-i.Terlalu musiman,terlalu mem-bebek.
What a man can do and what a man can’t do,kerasanya jadi lebih ke what an bebek can or can’t do.Yup,membebek dengan alasan keadaan adalah hal yang paling sering dialamin saat ini kayaknya.Rasanya sama kalo kita ada dibelakang seseorang,terus orang itu ngomong ” Oh good boy…good-good boys.Sign here,yeah sign here,right here.Right on my butts! “.
(Damn it)(For godshake,I hate my self when I must face on with keadaan,harus berdamai dengannya.Dan harus membebek setelahnya.)
Mungkin,karena itu gua selalu terpesona oleh orang-orang yang anti-kompromi macam Ivan ini.Setelah,Jim morrison,James Hetfield,Max Cavallera,Tracy Chapman,Alanis,dan satu lagi.Laki-laki atau perempuan yang hidup di jaman sekarang ini tapi jago banget maenin gamelan.I loves gamelan,especially gendang.Hehehehehe
Ada kutipan bagus dari buku itu :
…Ivan mengerahkan segala daya upaya agar musiknya bisa terus hidup bersama-sama Burgerkill dan teman-temannya di Ujungberung.Di tengah mainstream industri musik saat ini.Barangkali,ini sebuah wujud dari sikap anti-kompromi yang dapat kita tandai dengan satu kalimat yang memuat ekspresi khas dari Ujungberung:PANJEG DINA JALUR
(notes: Panjeg dina jalur sama dengan teguh pendirian apapun yang terjadi)
Well,I think I should panjeg dina jalur as well as I can do.Sekali-sekali keadaan harus ngikutin gua…




8 Comments