Kelas Kehidupan, Wew ?
Kata siapa life begin at 40th ? Setidaknya buat gua, hidup itu dimulai sejak umur 28 kurang 2 bulan kemaren. Tepatnya, hidup itu di mulai sejak 28 kurang 2 bulan di sebuah acara seorang temen yang diadakan di sebuah lounge, di Parisj Van Java mall.
Sabtu siang kemarin, sehabis makan di rumah makan-nya Ibu Murni, which taste of telor dadarnya selalu tepat menghujam di lidah, dan akan dijadikan sebagai syarat baku, salah satu kriteria untuk memaknai apa dan seperti apa istri solehah itu. Dalam artian, istri solehah yang dapet dimaknai secara low context, secara real yang kerasa di lidah.
Btw, out of the plots. Kelihatan dangkal nggak, kalo nyari pasangan hidup pake rasa dadar telor sebagai salah satu standarisasi-nya ? Kalo nggak. Ibu-ibu masaklah telor dadar se-nendang mungkin, datanglah ke Bandung, jodohmu ada disana. Hehehe….
Lanjut, lalu. Terima pesan pendeknya seorang teman, yang sedang berada di sebuah acaranya temen, bisa disebut kenal baru sebenernya dengan temen yang punya hajat ini.
“Cep, kesinilah, ke pvj, lagi rame-rame nih, di anu-anu-anu lounge, ditunggu banget”
Penasaran dengan uang yang dibawa. Kembalian makan ada 14 ribu, merogoh di saku ada 20 ribu, dan didompet 20 ribu juga. Akhirnya, okelah datang kesana. Walaupun dengan perbekalan yang berbahaya untuk datang ke sebuah lounge and cafe sebenernya, tapi kan ini undangan, nggak baik menolak undangan.
Sampe disana, remeh temeh, mengucapkan selamat hari jadi. Terus duduk di sofa yang menyudut, efek temaram lampu dan kepulan asap rokok selalu begitu menyenangkan. Lagian gua suka efek remang-remang, sangat Al Capone, sangat The Untouchable.
Pas memperhatikan para undangan yang datang. Yang laki-laki, sebaya-sebayanya sebenernya. Tapi karena kustom yang mereka pakai. Begitu rapih, semi formal dengan blazer Hugh Grant wanna be sama rambutnya yang kebanyakan rapih-wet looks, sebagian mendekati Harmoko hair cuts. Jadinya mereka kelihatan 2-3 tahun lebih tua, or kalo boleh jujur, 3-4 anak tangga lebih mapan.
Dan yang perempuan. Jenis sosialita (atau Lolita gitu ya di sebutnya), begitu anggun walaupun nggak cakep-cakep amat sebenernya. Kayak di cerita Ugly Duck-Beauty Swan, hanya saja transformasi dari bebek ke angsanya di lewat, tau-tau jadi putri ajah.
Dan juga mata mereka-yang so clean and so bright, juga bibir mereka-yang just made for kisses and for laughter only kayaknya, juga gesture tubuh dan kelembutan kulit mereka. Bikin kepalanya bertanya ;
“Diem dimana mereka selama ini ?”
“Apakah mereka suka berkeringat, kalo iya, apakah keringatnya karena bekerja atau karena spa atau kecapean shoping ?” Dan
“Berapa banyak Ibu lalat yang menjanda, gara-gara para suami lalat mencoba nemplok dikulit mereka dan terpleset, trus R-I-P ?” Poor Ibu lalat, masa idah-nya kan 4 bulan 10 hari buat berkembang biak lagi. Hehehe
Somehow, dengan sidik muka yang penuh minyak, dengan kostum ini ( t-shirt and jeans as usual), dengan tampilan sekarang ini. Walaupun nggak salah kostum sekalipun, tiba-tiba ngerasa ” Ini mah bukan kelas gua atuh !” “Terlalu Wah” “Too luxurious”. Dan kayaknya batasan kelas itu telihat jelas di depan mata, walaupun iya, kita berasal dari Adam dan Hawa yang sama. Tapi harus diakuin, kita adalah hasil dari produk yang timpang.
Latar belakang hidup kita berasal, latar belakang pendidikan yang kita dapat, dan latar belakang dari menengah ke atas atau dari menengah kebawah kita di cetak, dari cetakan tanah biasa atau dari cetakan emas dapat dilihat zoom-in dari sini.
I knew, thats my Gods, My Alloh-The greats who create heaven and earth-. Nggak akan suka jika ada umat-nya yang membedakan dirinya sendiri atas dasar busana, atas dasar susah dan senang, atas dasar pintar dan bodoh, atau atas dasar berapa banyak saldo kita di Bank. Semua itu gua tahu, udah tahu di luar kepala malahan.
Mungkin, kalo lagi pas ada di mesjid, pas ada di acara ke-agama-an, dan atau dimanapun tapi bertemakan religius. Bolehlah matanya akan aman terlindungi dari kilatan gemerlap lampu dunia. Tapi pas ada di ‘lapangan’ ini, berada di tengah-tengah para produk cetakan emas ini ? Kayaknya akan susah untuk menyangkal teori-kenyataan-hidup, dari 2 buah buku yang di pinjem sama si Hardi lebih dari 6 bulan (Woi, balikin woi !). Orang Miskin Di Larang Sakit, Orang Miskin Di Larang Sekolah.
Yang inti dari buku itu, yang bisa ditangkap, dalam bahasa gua adalah “Bahwa bukan manusia yang menciptakan kasta/kelas tapi uang manusia-lah yang memaksa terciptanya kasta/kelas itu sendiri”. And anyhow, at this time, in my ideas about kasta/kelas. Please, don’t argue about : Kasta is wrong or Kasta is right, kasta is being or kasta is nothing. Coz sometime, its just about simple reality
Honestly think about it, about that I’m not in the same class as they are. Ya walaupun mereka juga dari tanah dan akan balik lagi ke tanah juga, dan selalu ada harapan atau diharapkan sama salah satu dari angsa-angsa itu sebenernya. I wish. Hehehehe…
Sampe sekarang isu-isu perbedaan kelas itu masih mengganjal. Dan apakah hidup ini baru di mulai dengan mulai memikirkan perbedaan-perbedaan kelas itu. Perbedaan pendapatan, perbedaan status sosial. Yang mana, mau nggak mau, suka nggak suka, mempengaruhi cara pikir tentang siapa kita ini sebenernya ?. Atau cara kita memandang dan dipandang oleh seseorang ?
I thought I started to think every moments of my life, every little moments of my life. Wishing to keep as close to the truth as possible. And found many perspective of life. Dan harus mengutip dari One Autumn Night-nya Maxim Gorky “I seem many crate, try to digging it, I must confess that apparently I was so deeply engaged in digging under the crate that I completely forgot about everything else except this one thing : What could be inside that crate ?”
Mmmmhhh, hidup ini beneran baru di mulai kayaknya…Atau emang kebanyakan baca kisah-kisah dari para penulis besar Rusia ?




11 Comments