Satu Kisah Tentang Gaji
Gaji kok cuma cukup buat bayar tagihan Bank. Tagihan Bank ini, tagihan Bank itu, sampe tiga Bank, beda nama pulak.
Damn It
Nggak boleh di bilang ‘cuma kok’ sebenernya. Kesannya, sangat tidak menerimakan apa-apa yang udah di kasih sama Tuhan. Tapi ya-ituh. Kerasanya teuteup satir pas itung-itung uang yang bakal tersisa dari gaji bulan ini, hanya serpihan-serpihannya saja yang mengendap. Nggak ada yang bisa dijadikan bahan pokok untuk menggemukan saldo rekening, masih jauh, apalagi untuk uang muka rumah mah. Padahal itu salah satu wishlist-jangka panjang dalam hidup yang berangsur me-nua ini.
Ngecek saldo, pake layanan sms banking. Layanan Bank lain dari Bank tempat transfer-an orang-orang payroll (biar lebih ter-manage, maksudnya. Makanya sengaja di pisahin. Tapi jadinya ?). Dan ngeliat saldo yang tersisa. Langsung menggigil, dan nggak bisa berhenti mengerang. Liat nominal saldo yang serasa kayak nabung di celengan ayam ajah ini mah. 11-12, nggak jauh beda nominalnya sama tabungan si ade yang masih duduk di SMP !.
Damn it
Damn it
Damn it
DVD original version ‘Symphony and Metalicca’ yang di conductor-i sama MIchael Kamen, jalan-jalan akhir pekan yang selalu berakhir di bioskop, segelas dua gelas kopi lengkap dengan setengah bungkus rokok saat menunggu pertandingan liga champion di warung-nya Pak Adang, dua piring kentang goreng di sebuah cafe di jalan Braga (ini menu yang termurah di tempat itu, palingan ngabisin 25ribu perak), yang udah lalu-lalang didepan mata semenjak pertengahan bulan lalu, kalo liat gini. Luluh lantak semuanyah. *(
Mencoba bijak. Ya sudahlah, percuma misuh-misuh juga. Sekarang mah tinggal mengencangkan ikat pinggang. Oke, bulan kemarin juga udah mengencangkan ikat pinggang. So, jadi sekarang, ikat pinggangnya harus di bikinin lubang baru. Biar lebih kencang lagi mengikatnya. *(
By the way, ada kan, yang bilang. Kalo Tuhan ngasih jawaban dengan cara yang unik atas setiap pertanyaan umat-Nya. Dalam artian, Tuhan kadang memberi jawaban yang penuh dramatisasi pas suasana hati kita lagi sedih, lagi nangis. Kadang juga, jawaban-Nya terbalut dengan sense of humor yang tinggi. Pas kita lagi senang, lagi berbungah-bungah hatinya.
And somehow, nggak tahu kenapa, sekarang tiba-tiba ngerasa. Kalo Tuhan, my Alloh, Yang maha melapangkan, Yang maha pemberi rejeki, sedang ngasih jawaban atas satu dari sekian banyak pertanyaan itu. Selagi keadaan financial yang antipati terhadap nyanyian-nya Robert T Kiyosaki yang berjudul Rich dad-Poor dad.
Jum’at sore kemarin, pulang dari kerjaan. Masih menggigil ngeri sehabis liat saldo rekening tabungan, masih menahan nafas dalam-dalam liat barang-barang yang mau di beli menguap semuanya dari kelopak mata. Baca sms dari temen satu kos-kosan, yang isinya ;
“Cep, elu gajian ya ? Minjeum lah 300 rb ajah, si neng ultah uy besok, gaji gw kering.” pake tambahan singakatan “Bls cpt” di belakangnya.
Aneh, dia kan orang yang rapi soal urusan duit. Dan sekarang, K_E_L_A_B_K_A_N ?
Mungkin gak, kalo Tuhan sedang menyampaikan pesan-Nya ; Acep Ruslan, kamu tuh ya, misuh-misuh pengen di kirimin biadadari. Tuh liat, temen kamu!, yang notabene (hehehe, notabene?), sangat administratif dalam hal keuangan. Masih kelabakan di hadapkan dengan ultah pasangan mah ! Lha, kamu ?.
Well Gods, Ya Alloh. sepertinya hamba-Mu ini udah mulai bisa tersenyum, udah mulai bisa menerima. Apapun itu (yang bisa nge-bete-in terutama) pasti akan selalu ada hikmah di belakangnya. Ya, walaupun senyumnya masih agak kecut-kecut dikit.
Jadi, jadi, jadi. Pelajaran yang dapat di tangkepnya ; Selain harus hidup sederhana, dan mulai belajar bersabar. Saya juga harus mulai memikirkan: Bagaimana caranya mendapatkan perempuan yang tanggal lahirnya berada direntang waktu-tanggal 20 sampai 27. Biar kedepannya, ada alasan ‘neng,lagi tanggal tua nih A-A’ kalo dia lagi Ultah. *Gasp* . ^_^
Nggak deh…Yang penting mah kan, yang itu tadi. Nerima dengan tulus, Atau terjemahan gampangnya. Pasrah ajah dan berdoa ajah. Dan untuk bulan ini, in this case, banyak berdoa semoga sampai ke akhir bulan
***
And oh, ada catatan tambahan. Tadi sempet liat Mang-Dvd lagi ngegelar dagangan. Inglourious Basterds, The Final Destination (Whuaaa, bukannya masih tayang di bioskop ya ?), Steve Vai live in concert, sama yang bareng Eric Johnson dan Joe Satriani juga ada, film (agak) jadulnya Steven Spielberg, Schindler’s List. Digantung-gantungin dan ada tulisan ;
DISKOUNT 12RIBU/3 !.
( Kok nulisnya gitu ya, DISKOUNT ? Pake _K_ ?. Mmmhhhh. Mamaknya Lembang, Bapaknya London. Ingsun, Inggris-Sunda kayaknya si mamang ini. Hehehehe)
Seperti tanpa sadar, I means, tanpa sadar yang naturally. Minta di bungkuslah yang Inglourious Basterds, Steve Vai yang lagi solo, Schindler’s List, sama tiga dvd the best-the best performance. Ada dari Pearl Jam, punya John Mayer, sama The Doors, pastinya. Jumlah-jamleh semuanya, di tutup di 24 ribu.
Pas udah bayar. Semua-semua inikan….Uh. Uh. Uh… Yaiksss ? Ah, cuma 24 ribu ini, lagian kan walupun dompet-nya lagi sesak nafas juga, tetep ajah butuh hiburan yang layak. Kata hati, mencari pembenaran.
Well, selalu ada pembenaran di balik pemborosan. Walaupun tahu, itu yang makin bikin dompetnya asma.





Pelajaran dari deretan dvd diatas :
“Kalo dompetnya lagi sesak nafas, jangan pernah berlari menghampiri tukang dvd”.
….. *(




7 Comments