Les Miserables
Sabtu pagi, terbangun dengan penuh percaya diri.
Masih setengah hidup, mengawali hari dengan dua nama dikepala. Moccachino dan Victor Hugo.
Moccachinos, as my eyes can’t glowed with passionate emotion, or I thought, can’t sees the ‘buricak burinong’ objects in a tender rapture if I not drinks it before the sunrise overed. Ya, moccachino bukan sekedar moccachino, moccachino adalah satu titik dimana satu cerita kehidupan akan di mulai. Moccachino adalah hidup.
Dan Victor Hugo…
Ah Victor Hugo, sama seperti di ‘Huncback Of Notre Dame’, dengannya menghabiskan Rp. 69500, udah diskon 20% itu teh, nggak dan nggak akan pernah bisa di bilang mengecewakan. Penokohan-nya selalu bisa kuat dan bisa lemah, satir tapi sekaligus menyenangkan, mengajari di satu sisi tanpa mencederai di satu sisi lainnya, macho dan melambai-lambai secara bersamaan (?).
By the way, what was I thinking with melambai-lambai ? Mmmmhhh, “Mo kemenong boo ?” “Mo kesindang yey !”. Hehehehe
Di Les Miserables, dengan Jean Valjean di dalamnya, bareng tokoh-tokoh lain yang selalu bersama dan atau dilalui dalam hidup ‘man of the book’ ini. Fantine, Cossete, Marius Pontmercy, Thernadier, Javert, dan etc etc. Walaupun spelling nama-namanya kadang gak nahan di mata, tapi alurnya masih bisa diikutin dengan mudah. Sempet terhenti di halaman 400 karena kecapean baca nama-nama itu, tapi akhirnya bisa sampai juga di ujung cerita, ya walaupun itu harus dengan tergopoh-gopoh.
Dan ide-ide romatismenya. Nggak berkubang di piring dua orang yang berlainan jenis kelamin saja. Romantisme antara satu orang dan satu orang lainnya, dalam lingkaran yang di sebut kehidupan sosial juga berserakan dimana-mana, tercecer di tiap bab. Walaupun harus diakuin, romantisme Marius dan Cossete bikin hatinya ter-KO di ronde pertama baca buku ini, karena hantamannya yang lebih sadis dari sebuah lirik lagu, soundtrack-nya kisah seorang temen dengan kekasihnya, indeed I enjoyed every bit of it. “Lebih baik kau bunuh aku dengan pedangmu, asal jangan kau bunuh aku dengan cintamu”, yang di lagukan dengan sangat miris malam tadi, sehabis terima telpon. (Sorry brow, I can’t help you this time, begitulah cintah. Hahaha)
Some case, ada satu cerita dimana Valjean dengan Cossete-kecil yang tertidur di punggungnya. Berlari dalam malam, mengendap-endap di kedinginan, tertatih melarikan diri dari orang-orangnya Javert tapi berusaha sekuat tenaga untuk tetap membuat Cossete nyaman. Dan akhirnya, berhasil lolos di cul-de-sac Genrot, antara pertigaan Palenceau (Sebelum pertigaan Cihampelas). Cukup mengingatkan bahwa : Sungguh, dengan cara apapun,kasat mata atau tidak, seorang Ayah akan menukarkan segalanya untuk seorang anak perempuan yang di sayangi-nya, bahkan kerajaannya sekalipun. Which I amen-ed.
And oh, anyway,mencoba mengangkat sesuatu yang lain.
Mengangkat item-item pelajaran penting dari sebuah roman klasik. Tentang perbedaan kelas. Ide-ide kebangsawanan dalam masyarakat. Penggaris bawah-an penegak hukum yang sebagai manusia, yang bukannya dewa pemberi sertifikasi ‘kamu begitu salah’ atau ‘kamu begitu benar’ di buku ini tulisanya sepertinya di-emboss silver, biar kelihatan jelas (Dan emang, kadang, pada derajat tertentu, penegak hukum itu lebih jahat dari si terhukum itu sendiri. “19 tahun di penjara, untuk sepotong roti yang di curi ?” Mmmmmhhhhh ). Dengan setingan latar awal abad 19, diantara gesekan pemuja Raja Louis dengan pendukung Napoleon Bonaparte. Ternyata mengangkatnya nggak seberat dari yang di perkirakan, trus proses menuangkannya ke otak yang udah kosong pun nggak perlu tenaga yang banyak-banyak amat.
Atau emang otaknya lagi nampol banget kali yak ? Sampe semuanya masuk-masuk aja dengan lancar ?.
Yang jelas gara-gara Miserables ini, ada tuh howto-howto baru dalam menghadapi sesuatu, yang intinya, kalo mau dituliskan : Jalanan di depan itu penuh dengan tikungan, kita harus mempelajari tikungan sebelumnya untuk bisa melewati tikungan yang ada di depannya.
Itu ajah kali ya ?. Bener gak ?. Ah sudahlah, btw sekarang malam minggu, selamat liburan semuanya. La Liga, Serie A, Premiere League. Here I Come, you’re dates is coming. ^_^

Currently Listening to:
Man In The Mirror By Michael Jackson
“Kemarin – kemarin ada yang mengingatkan lagu ini.”




23 Comments