Terbakar Koil
Ceritanya kemarin-kemarin lagi seneng dengerin album kompilasinya koil. Jadi, ada beberapa band lokal yang bareng-bareng nyanyiin lagunya Koil, terus di-satu-in, dan di kasih judul; Kami Percaya Kaupun Terbakar Juga.
Dahsyat? Emang. Tapi, Koil adalah Koil. Nggak akan ada yang lain
Penasaran sama profile band-band nya itu, terus googling, dan ternyata udah lama ada di Apokalip (heh?) (Kok?) (Bisa sampe gak tahu gitu ya, kan links-nya udah di taruh paling atas, ngapain juga ke google dulu, kirain?)
Pas baca resensi album yang versi pdf-nya, atau semacam intro, atau semacam prakata-lah mungkin, atau semacam yang sebangsanya. Mulutnya mengatup, nggak bisa berhenti ngomong ‘anyir’, sedikit bergumam ‘wew’, nutup ebooknya, buka lagi, baca lagi, mulutnya gak bisa berhenti menganga. Dan itu berarti, gua sedang membaca sesuatu yang nggak pernah kepikiran di kepala.
Masa, si mas or si mba (mas-mas kayaknya sih?) yang meng-atasnama-kan dirinya pelukislangit, bilang gini;
“Bicara tentang koil adalah bicara tentang sejarah. Band ini, kalau dipikir, tidak bagus-bagus amat. Band ini, kalau dipikir juga, tidak lebih dari serangkaian sensasi yang celakanya, keren….”
“Saya selalu punya ruang khusus untuk musik koil, hanya musiknya, jangan terlalu cinta sama bandnya di dalam diri saya. Ruangan itu khusus, layaknya sebuah ruangan penting di dalam sebuah kastil tua yng kokohnya minta ampun, yang selalu perlu dikunjungi secara reguler, berfungsi sebagai untuk berpisah sejenak dengan kenyataan dan menyegarkan diri. Bisa juga untuk mencari inspirasi yang bisa membawa perubahan radikal dalam hidup”
( Penulislangit di Apokalip, dalam “Kami percaya kau pun terbakar jaga tribute to koil” )

Jujur ajah, jadi ngiri kalo ada orang yang bisa menulis dengan sempurna (Bener-bener sempurna) tentang Koil menurut versinya tanpa melukai versi orang lain, menulisnya adil, mempunyai takaran yang pas, membawa personalitas masuk dengan mulus ke area kolektivitas, jujur, smart, elegance, sopan tapi tetep punya taste, setidaknya buat gua sendiri, seperti itu. Membacanya jadi kepikiran masih punya ‘hak’ gak gua nulis tentang si Koil ini.
Ah, ‘hak’? Sejak kapan gua mikirin ‘hak’?
Membuka aplikasi winamp, nge-add Koil yang Mendekati Surga. Pas sampe ke lirik:
—
Aku adalah arsitek
Aku adalah pionir
Akan kurancang dunia
menjadikannya diriku
—
Beneran ya, Koil itu emang ruang kosong yang harus dikunjungi secara reguler, pembawa inspirasi perubahan radikal. Pembawa keberanian setelah kita terjerumus kedalam ketakutan, meng-ekpose ketakutan sampe ketakutan itu nggak punya tenaga lagi. Mengutip sama yang di bilang Jim Morrison ( bener, gua bosen ngutip orang-orang bule terus, tapi ya mau gimana lagi, ngutip siapa lagi, Sule?) “Expose yourself to your deepest fear; after that, fear has no power, and the fear of freedom shrinks and vanishes. You are free”.
Oh ya, sama yang ini juga:
—
Tanpa rasa
Tanpa raga
Surga di hati
Terbawa mati
Ikuti rasa
Jejaki halusinasi
—
Ngedengerin-nya sambil menuliskan ini, sambil senyum-senyum sendiri, senyuman yang sepertinya mendekati surga, halah. Kalo boleh nambahin, dari apa yang udah dikatakan sama si penulislangit, walaupun masih bertanya masih punya ‘hak’ nggak ya gua menuliskan ini.
Koil adalah Api. Api yang anget-anget kuku (?). Koil adalah percaya diri. Koil adalah nyaman.
Rgds
-duy-




12 Comments