Oh no, I said too much, haven't said enough

acepbaduy

 

 

  • mandor tempe: masalahnya ya itu, apakah kita sedang di genosida bangsa sendiri ?
  • acepbaduy: @ All: Maabs semuahnyah, sayah baru ol lagih. Terimaksih yak :D
  • iLLa: sama.. sama.. sama.. ni orang kemana yak? ngilang getu. etapi ada namanya di list peserta Amprokan tuh, see ya...
  • quinie: owww.. gua jadi inget pelajaran matematika. itu namanya persekutuan/daerah irisan, lambangnya hurup U...
  • quinie: dari dulu emang rssnya bermasalah..gua juga ga ngerti kenapa

     

Cerita Amarah Atau Apalah

Matanya masih kriyip-kriyip dan merah kayaknya, gara-gara nggak bisa tidur semalaman tadi. Trus paginya langsung berangkat kerja dengan terantuk-antuk, dan sekarang ada di ruang internet umum, pesanan kopinya yang baru aja dateng (makasih mba, kopi manis yang nganter-nya pun manis, hehehe), sama rokok yang terus menyala sambung-menyambung. Sore menuju malam, didepan sebuah monitor berwallpaper Angelie Jolie, dengan matanya yang udah 5 watt.

Ini kali yak yang disebut hidup yang berwarna itu? Kurang tidur, disebuah ruangan kotak penuh asap rokok, dan muka seorang Angelina Jolie yng di centered di monitor, sampe-sampe komedo-nya kelihatan? Beneran komedo itu teh, atau karena emang matanya yang kurang tidur?

Mencoba mengingat-mengingat. Memunguti yang terserak-serak dari hari-harinya kemaren.

Mmmmhhhh, berawal dari cerita-nya seorang Derek Vinyard dalam ‘The American History X’ yang di tonton tadi shubuh. Tentang seorang neo-nazi yang menghabiskan hidupnya untuk ‘Mein Kampf’-nya Adolf Hitler, untuk membenci orang-orang berkulit hitam, atau kuning, atau merah, atau mungkin sawo matang juga. Kepalanya Jadi bisa mengangkat apa-apa yang yang dibilang sama Eugene Ionesco dalam The Bald Soprano. Dia bilang; Drama ini tentang seorang pemberang, seorang manusia jahat yang sedang berkuasa, dan seorang pemberang lain, seorang manusia lainnya yang ingin membunuh si manusia yang berkuasa itu, dan kriminal.

Eh?

Bukan-bukan-bukan. Bukan Ionesco dalam The Bald Soprano, tapi Ionesco yang mengutip buku literary-nya Jan Kott. Shakesperae Our Contemporary. Bukunya lagi nggak di pegang, lupa lagi di pinjem sama siapa, tapi sepertinya bener.

Dan mencoba mengiris-iris ‘American History X’ menjadi potongan-potongan kecil, dan mencoba membaca secara detail dari tiap potongan-potongannya itu, dan baru ini yang bisa ditangkapnya:

“Cerita di film ini nggak sebatas tentang rasialis aja. Lebih dari itu, film ini sepertinya pengen mengangkat isu-isu personalitas. Mengangkat sebuah kemarahan seseorang, kekesalan seorang sama lingkungan sekitarnya, keadaannya, ketidakmampuannya. Marah dan kesal karena berada di rantai makanan terkecil dari sebuah lingkungan sosial. Marah sama hal-hal yang remah-remah”

Nggak tahu kenapa, ngerasa ada bagian dari diri sendiri yang sempal-sempil di karakter itu. Sama kayak Derek Vinyard, belum menuju rasialis emang. Tapi pintu-pintu kemarahannya suka tiba-tiba terbuka secara berlebihan dan tanpa alasan. Ngerasa dunia sedang tidak bersahabat atau semacamnya.

Dan mungkin, kenapa film ini bisa jadi nominasi oscar tahun…Ah lupa lagi, gak sempet baca-baca sampulnya. Mungkin karena bisa menterjemahkan emosi yang biasa dirasakan oleh orang banyak, dalam artian tidak harus menjadi seorang neo-nazi untuk merasakan emosi yang kayak gini. Emosi berlebih yang semestinya tidak harus ada

Kayak sekarang ini, dengan setingan panggung: Ada dibelakang monitor flat 17 inch, abu-abu rokok yang berjatuhan diatas meja, sebuah asbak yang nggak pernah penuh sama abu rokok, setengah cangkir moka, bermultitask-menengok Fb orang lain, membaca status terbarunya, relationship yang terjalinnya, content-content yang di upload untuk sekedar bilang ke masyarakat fb “Gua udah punya ini, gua udah pernah kesini, bahagianya hidup gua. Lha elu?”

Well ya, terlepas dari itu adalah hak dari setiap masing-masing individu untuk berbagi kebahagiaan, menunjukkan mood postive-nya, berbagi ceria atau apalah di Fb, but suddenly I Thought “Oh my gods, I wanna kick some big fat ass tonight” atau sempet malah kepikiran “Ya Tuhan, manusia tutup thermos ini, kapan ya saya di kasih kesempatan buat ngelus-ngelus kepalanya,…Pake semacam palu gituh?” Hanya gara-gara orang ini nge-upload satu pics ‘hahahihi’ di dinding miliknya, hanya satu pic kebahagiaan tapi rasanya seperti sebuah serangan yang tidak ber-prikemanusian dan menimbulkan kemarahan yang gak jelas secara berlebih?

Belum berada di tingkatan yang harus berakhir dengan lempar-lempar asbak dan benda-benda keras lainnya yang ada di meja komputer, yang dapat melukai mahluk hidup yang ada di warnet secara phisycally memang (or I must Started it now?). Tapi emosi yang seperti ini kan yang bisa merendahkan kualitas hidup itu? Tidak Ikhlas, tidak bahagia di saat orang lain mendapatkan sesuatu yang di-mau-i-nya, sementara kita tidak (atau belum atau tidak akan pernah) mendapatkannya?.

Itukan sama kayak Vinyard yang merendahkan dirinya sendiri dengan menganggap semua tetangganya yang negro adalah sampah masyarakat-yang bisanya hanya menghabiskan dana jaminan sosial pemerintah. Keahlian mereka cuma teriak-teriak dijalanan, sek bebas, dan jual obat bius. Dan semua tetangga yang meksiko-nya adalah homo, hanya gara-gara mereka berambut klimis dan bercelana ketat?.

Vinyard mungkin hanya sebuah fiksi. Tapi emosi yang digambarkannya bukan sebuah fantasi.

And I though, off the deep end, for some perspective maybe, and ok instead of marah-marah gak jelas. Mungkin emosi, amarah, apapun ini namanya hanya satu lapis fase dari berlapis-lapis fase, dari sebuah proses hidup yang harus di jalani untuk mencapai sebuah kematangan itu.

Dan ini mungkin bisa di jadikan sebagai catatan di kepalanya juga, masih dari ‘American History X’ : Bahwa amarah hanya akan menghasilkan sebuah bumerang.

Ah ya, kalopun nggak bisa meloncati fase ini. Semoga bisa melaluinya dengan cepat.

13 Responses to “Cerita Amarah Atau Apalah”

Leave a Reply