Oh no, I said too much, haven't said enough

acepbaduy

 

 

  • mandor tempe: masalahnya ya itu, apakah kita sedang di genosida bangsa sendiri ?
  • acepbaduy: @ All: Maabs semuahnyah, sayah baru ol lagih. Terimaksih yak :D
  • iLLa: sama.. sama.. sama.. ni orang kemana yak? ngilang getu. etapi ada namanya di list peserta Amprokan tuh, see ya...
  • quinie: owww.. gua jadi inget pelajaran matematika. itu namanya persekutuan/daerah irisan, lambangnya hurup U...
  • quinie: dari dulu emang rssnya bermasalah..gua juga ga ngerti kenapa

     

Tambah Umur. Tambah Usia

More than tercekat dalam artian milad secara phisically; Bertambahnya usia berdasarkan sistem penanggalan waktu apapun. Hari kemaren, usia-nya genap 27 tahun. Hurray! Hurray! Hurray! Walaupun iya, masih terseok-seok dalam usia yang seharusnya udah mateng ini. Teuteup. Hore!

27 Tahun? Mmmmhhhhh apa yak? Mikir mikir mikir, cepet cepet cepet. Oh, iya. 27 tahun, semoga tidak tampak seperti 77, bisa se-matang 57, punya semangat 17. Dan, punya keceriaan anak 7 tahun.

And oh satu lagi. Nggak pengen apa-apa lagi, pengen jadi baik lagi aja, jadi baik ajah udah cukup, lebih worth it dari apapun di dunia ini. Nggak perlu kayak Ebenezer Scoorage-A Christmast Carol-nya JIm Carrey yang di datangin hantu masa lalu, masa sekarang, dan masa datang supaya menjadi baik. Cukup banyak temen ajah, nggak usah deh ada hantu-hantuan.

^^

New Moon

:: WHEN THE VEGETARIAN VAMPIRE (EDWARD CULLENS) DUMBFOUNDED ON IDUL ADHA

Tiga hari libur, nggak merubah sesuatu. Nggak ada perubahan yang signifikan, yang bisa merubah hari senin itu jadi indah, atau minimal kalopun nggak indah, ya semangat kerjanya-lah jadi mengebu-gebu. Udah libur gituh.

(Btw, kapan terakhir kali hari gua indah yak? Sama apa?)

Oke kan ada hari gajian, tapi kan tiap bulan juga gajian, sama kayak rutinitas yang lain. Terlepas dari acara syukur mensyukuri hari gajian, setelah liburan tiga hari ini, kesannya cukup satu kata aja: Garing.

Ada sebenernya yang bikin seneng, remah-remah, tapi kayaknya harus dituliskan juga disini. Biar adil

Ceritanya, sabtu pagi rumah udah dipenuhi dengan bau anyir dari daging kurban, bibi-bibi, paman-paman, ponakan-ponakan sebagian udah pada berdatangan. Bahaya buat seorang vegetarian, sebentar lagi perang lemak dan bau amis bakal segera di mulai. Akhirnya memilih buat keluar

Diluar. Keliling ke sekolahan SMP dulu, kali aja ada temen atau siapalah yang bisa ditemui buat mengenang sejarah, bad decision, nggak ada yang kenal satu orang pun. Terus ke situ Cileunca, sama ini juga, nggak ada yang menarik. Tempatnya nggak kayak dulu lagi. Sekarang acak-acakan, sepi, nggak ke urus, kurang perhatian, kurang kasih sayang. Ampun deh.

Daripada di rumah mual-mual sama daging, terus suka bete sendiri dan ujung-ujungnya bakal nge-bete-in semua orang, akhirnya perjalanan di teruskan ke perkebunan teh Malabar. And ya, akhirnya ada yang mengenali. Hurray Hurray senangnya masih tinggal di dunia yang sama ternyata.

Bukan seseorang yang bisa di kategorikan sebagai sahabat sebenernya, tapi setelah sekian tahun nggak pernah ketemu, semua orang bisa jadi sahabat kan ya. Dimulai dengan ngobrolin bad news-nya dulu “si anu tuh udah nikah 3 kali, sekarang mau yang ke empat!” (beneran itu teh? Laku bener, jadi sirik) dan “si anu sekarang nggak punya rumah lagi gara-gara gempa kemarin”, sama anu lain yang berakhir jadi preman . Banyak yang berakhir dengan cerita sukses juga, jadi dokter, jadi perawat, jadi pns, jadi pagawai yang bolak-balik ke luar negeri, dan jadi apa ya itu yang satumya lagi, pokoknya orang ini jadi orang kota tetap saking suksesnya, gak pernah pulang kampung.

Anyway, dari semua obrolan siang itu. Its show me the ‘lifes’ that I should see, the place, Or the people yang jadi bahan buat mengaca diri sendiri, lengkap dengan baik dan buruknya. Dan kayaknya, sekarang harus mulai nge-life list lagi. Harus mulai ‘berani’ nge-life list lagi.

(Lifelist? Adakan wishlist, itu tuh buat jangka pendek, nah lifelist ini jangka panjang. Hehehehe)

Udah di niatin gak akan pernah list-list an lagi tadinya, gara-gara list yang kemarin ajah mentok dimana-mana. Asal senang ajah udah cukup, nggak ada target-targetan, gak apa-apa mesti harus jadi ‘boneka’ juga. Toh “The most powerful thing in the universe still just a puppet.” Kan? Gua dapet ini dari temen, nggak tahu dia dapet darimana. Gara-gara kebanyakan nonton berita di tv kayaknya.

Tapi pas inget katanya temen ini lagi, bahwa kita harus punya target atau bahwa kita harus punya pertanyaan buat diri sendiri “Buat apa kita hidup?” “Apa yang mau dicapai dalam hidup?”, bahwa tanpa itu semua kita seperti mayat hidup (dia bilangnya bukan kayak mayat hidup sih. Kayak kolor yang nunggu di cuci di akhirat entar. Hahaha)

Mulai mengangkat manusia lain di dalam cermin, man in the mirror. Life-list yang paling masuk akal saat ini mungkin : Not to be cengeng, rewrite the wish and stik to it.

Di mulai dengan mencoba makan daging? Yaiks. Over my dead bodies firts.

Ralat, kecuali yang satu ini. *(

Terbakar Koil

Ceritanya kemarin-kemarin lagi seneng dengerin album kompilasinya koil. Jadi, ada beberapa band lokal yang bareng-bareng nyanyiin lagunya Koil, terus di-satu-in, dan di kasih judul; Kami Percaya Kaupun Terbakar Juga.

Dahsyat? Emang. Tapi, Koil adalah Koil. Nggak akan ada yang lain

Penasaran sama profile band-band nya itu, terus googling, dan ternyata udah lama ada di Apokalip (heh?) (Kok?) (Bisa sampe gak tahu gitu ya, kan links-nya udah di taruh paling atas, ngapain juga ke google dulu, kirain?)

Pas baca resensi album yang versi pdf-nya, atau semacam intro, atau semacam prakata-lah mungkin, atau semacam yang sebangsanya. Mulutnya mengatup, nggak bisa berhenti ngomong ‘anyir’, sedikit bergumam ‘wew’, nutup ebooknya, buka lagi, baca lagi, mulutnya gak bisa berhenti menganga. Dan itu berarti, gua sedang membaca sesuatu yang nggak pernah kepikiran di kepala.

Masa, si mas or si mba (mas-mas kayaknya sih?) yang meng-atasnama-kan dirinya pelukislangit, bilang gini;

“Bicara tentang koil adalah bicara tentang sejarah. Band ini, kalau dipikir, tidak bagus-bagus amat. Band ini, kalau dipikir juga, tidak lebih dari serangkaian sensasi yang celakanya, keren….”

“Saya selalu punya ruang khusus untuk musik koil, hanya musiknya, jangan terlalu cinta sama bandnya di dalam diri saya. Ruangan itu khusus, layaknya sebuah ruangan penting di dalam sebuah kastil tua yng kokohnya minta ampun, yang selalu perlu dikunjungi secara reguler, berfungsi sebagai untuk berpisah sejenak dengan kenyataan dan menyegarkan diri. Bisa juga untuk mencari inspirasi yang bisa membawa perubahan radikal dalam hidup”

( Penulislangit di Apokalip, dalam “Kami percaya kau pun terbakar jaga tribute to koil” )

Koil_Baduy_pdf

Jujur ajah, jadi ngiri kalo ada orang yang bisa menulis dengan sempurna (Bener-bener sempurna) tentang Koil menurut versinya tanpa melukai versi orang lain, menulisnya adil, mempunyai takaran yang pas, membawa personalitas masuk dengan mulus ke area kolektivitas, jujur, smart, elegance, sopan tapi tetep punya taste, setidaknya buat gua sendiri, seperti itu. Membacanya jadi kepikiran masih punya ‘hak’ gak gua nulis tentang si Koil ini.

Ah, ‘hak’? Sejak kapan gua mikirin ‘hak’?

Membuka aplikasi winamp, nge-add Koil yang Mendekati Surga. Pas sampe ke lirik:


Aku adalah arsitek
Aku adalah pionir
Akan kurancang dunia
menjadikannya diriku

Beneran ya, Koil itu emang ruang kosong yang harus dikunjungi secara reguler, pembawa inspirasi perubahan radikal. Pembawa keberanian setelah kita terjerumus kedalam ketakutan, meng-ekpose ketakutan sampe ketakutan itu nggak punya tenaga lagi. Mengutip sama yang di bilang Jim Morrison ( bener, gua bosen ngutip orang-orang bule terus, tapi ya mau gimana lagi, ngutip siapa lagi, Sule?) “Expose yourself to your deepest fear; after that, fear has no power, and the fear of freedom shrinks and vanishes. You are free”.

Oh ya, sama yang ini juga:


Tanpa rasa
Tanpa raga

Surga di hati
Terbawa mati
Ikuti rasa
Jejaki halusinasi

Ngedengerin-nya sambil menuliskan ini, sambil senyum-senyum sendiri, senyuman yang sepertinya mendekati surga, halah. Kalo boleh nambahin, dari apa yang udah dikatakan sama si penulislangit, walaupun masih bertanya masih punya ‘hak’ nggak ya gua menuliskan ini.

Koil adalah Api. Api yang anget-anget kuku (?). Koil adalah percaya diri. Koil adalah nyaman.

Rgds

-duy-

Takut

Hal yang pertama yang harus diingat dari setiap penjelajah yang baik adalah : Sebuah perjalanan mempunyai dua titik, titik keberangkatan dan titik kedatangan. Jika ingin menjadikan titik teoritis kedua menjadi satu dengan titik aktualnya. Jangan pernah pikirkan caranya. Karena perjalanan adalah sebuah ruang hipotesis yang berakhir di tempat dimana ia berakhir, dan karenanya ada banyak cara sebanyak cara menuju akhir, dan karena itu;‘cara’ menjadi tak terbatas.( Ernesto ‘Che’ Ghuevarra dalam The Motorcycle Diaries)

Oh gitu toh…Jadi masalahnya ada di waktu kan. Maksudnya, semakin lama-seiring waktu yang terus berjalan, si ‘titik aktual’-nya itu akan semakin kelihatan, iya kan? Just a matter of time I supposed.

Homer : “Oh? I see. Then I hereby declare you chicken for life! Every morning, you’ll wake up to, Good morning, chicken! At your wedding day, I’ll sing… Buck-buck-bu-buck! ”

Oke, dan keberanian juga. Pfiuuhhhhhh, nah ini nih yang suseh, udah terlalu lama jadi penakut. Sampe nggak tahu lagi mana yang harus di takutin dan mana yang enggak. Dan jadinya kalo udah gini, akan selalu berakhir dengan pengen muntah!

*(