Cerita hidup, masa yang udah terlewat itu, hanya bisa di ingat jika tercatat. Dan catatan ini, mungkin bisa di jadikan sebagai salah satu dari sekian banyak catatan hidup. Semoga.
Setiap anak laki-laki, semua anak laki-laki yang udah dewasa. Setelah bolak-bolak membuka literatur-literatur perempuan, akan menemukan pertanyaan yang kurang lebih seperti ini; “Seberapa kuat kamu akan mempertahankan dan memperjuangkan saya?” Atau sesuatu yang seperti ini, nggak banyak tapi ada; “Berapa kuat dan banyak financial kamu, berani-beraninya kamu suka sama saya?”.
Dan dengan segala modus, setiap anak laki-laki juga telah membuat dua ruang yang nyaman untuk itu semua : Ambil atau jangan ambil.
Ah…Di luar kepala itu mah. Iya kan? Tapi….
(menghela nafas panjang)
Mmmmmhhh well, sebenernya nggak masalah dengan dua sentimen itu, tapi sekedar pengakuan, ya-ya-ya selalu nggak nyaman sama annoyed di kepala sisi kiri kanan kalo ada beberapa literatur hidup (in this case kurang bagus) mantul-mantul di dalamnya. Jadinya tiba-tiba bertingkah konyol – ok, dalam beberapa kasus, suka memalukan diri sendiri di muka publik udah mendekati kebiasaan. Tapi konyol? Doh. Argh. Hueks deh.
Ada nuansa di kejar sesuatu di ujung lain, seperti time is running fast, seperti playing gods dengan sesuatu yang harus di dapatkan demi seseorang, indeed seseorang itu juga selalu membisikkan di telinga; santai sajah semua ada saat nya, semua ada waktunya, dan seterusnya-dan seterusnya. Tapi tetep ajah, rasanya ada sesuatu yang mengejar di belakang.
Seperti tokoh High Fidelity-nya Nick Hornby sekarang, berikut nggak tahu juga kenapa harus menyamakan diri dengan tokoh itu. Heh, hueks?
Atau seperti Hitam-nya Orhan Pamuk di-’Namaku Merah Kirmizi’ kali yak? Ah, seperti siapa pun itu, kayaknya harus segera back on track nih.
Anyway, di luar garis. Kemarin malem pas liat opening ceremony piala dunia, ngeliat scene yang menusuk-nusuk mata. Pas liat photonya Nelson Mandela fullface di layar gede, di iringi dengan semacam prolog atau apalah yang sampai sekarang penggalannya masih bisa di inget.
Katanya : “We can create hope”
Mmmmhhhh. Genius!
Posted at : 12 June 2010 ∞ 2
_
I was here (click the icon) with my friends. Drinked a lot of cup of cofees, and say “We don’t have a problem with caffeine!. We don’t have problem with caffeine!. We don’t have problem with caffeine!”
Ha. Ha. Ha. Ha. Ha…
Posted at : 31 May 2010 ∞ 2
I’ve been recorded my life on Tumblr . Go and follow me !
^_^
Posted at : 29 May 2010 ∞ 1
Not even think apa-apa. Bahwa pada suatu hari, pada suatu saat, manusia di dalam hidupnya akan di hadapkan dan berdiri di tepi bukit, entah seberapa atau sebagaimana tinggi bukit itu, lengkap dengan berbagai jenis kesulitannya. Waktu itu adalah, waktu dimana setiap ketahanan akan di uji.
Mmmmhhhhh…Dan sekarang ini mungkin. Adalah masa di mana ketahanannya itu sedang di uji. Kayak itu loh, King Arthur sebelum punya pedang Excalibur ? Ya oke, dengan semangat kejujuran, dalam real life, lebih mendekati kepada Homer simpson yang kelabakan gara-gara bir-nya abis di kulkas daripada King Arthur. Heu…
Intinya sekarang ini, sedang a board on the mist of the fabolous life. Sedang menyemangati diri sendiri, sedang berhenti misuh-misuh sama dunia, sedang menguatkan tumpuan kaki agar selalu tegak lurus dengan langit, dan sedang bersin-bersin, karena katanya Dewiq dalam salah satu lagunya, pfiuuuuuhhhh…. Sedikit seram sebenernya, tapi ya sudahlah di sebutin sajah: Dunia sedang tidak bersahabat.
Nggak se-seram itu sebenernya, karena actually toch ada bagian lain dari hidup yang di-pengen-i dari dulu, dan sekarang sedang berjalan. Sekarang ada yang yang mengatakan “kamu salah” atau “kamu benar”, “kamu harusnya seperti ini” or “sepereti itu” dan selalu dikatakannya dengan hati. Ehem
Tapi ya itu, selalu ada bagian yang tersedak.
Dan mungkin sekarang, menjadi tahan banting adalah tugas diri sendiri, try not to be cengeng dan berhenti hanya berdiri di seberang rencana adalah yang paling rasional.
Mmmhhhh…
Maybe life begins at 40th, but I think the terrors was started at 27th.
…Oh my.
Currently reading:
Child of All Nations (Buru Quartet)
By Pramoedya Ananta Toer
-
Posted at : 29 May 2010 ∞ 2
…Hariring eling ku eling. Kana Tanjung nu di pulung.
Duh. Kembang Tanjung nu nyengitan pakarangan. Nu nyengitan hate urang.
Kembang Tanjung Panineungan

By Koko Koswara (Indihiang, Tasikmalaya 1917 – Bandung 1985).
“Ka Mang Koko. Moal poho.”
-source http://datasunda.org-
Posted at : 26 March 2010 ∞ 4