Ya Alloh. Saya mungkin bukan mahluk-Mu yang baik, mungkin juga bukan tipe mahluk yang pandai mensyukuri semua nikmat-Mu. Yang pasti saya masih yakin semua pelajaran ini datangnya hanya dari-Mu.
Hari ini saya belajar : Bahwa antara termehek-mehek minta kepada dunia untuk dipercaya, sama tertatih-tatih untuk mempercaya-i dunia, itu bedanya jauh banget. Kayak hitam sama putih.
Dan
Bener mungkin, di atas langit masih ada langit. Tapi kadang orang suka lupa masih ada bumi yang dia pijak.
-duy-
Posted at : 24 March 2010 ∞ 8

If you are looking for me in a crowd of people. Look for the boy with out of dated thick-glass.
Damn I hate glasses T.T
Posted at : 20 March 2010 ∞ 10
Dua minggu setengah ini, lebih kurang. Selalu terduduk di deretan kursi paling belakang dalam sebuah bis berjenis proletar only vehicles (dengan pertanyaan besar di kepala, tanpa mengurangi rasa syukur ‘Segini juga udah Alhamdullilah’. Kapan yak, sayah bisa berhenti jadi karyawan? Infact menjadi makanan terkecil dari rantai makanan sebuah institusi itu semakin tidak meng-enak-an sajah). Melintas di sudut-sudut kota, melihat garis muka orang-orang di sore hari. Sebagian tampak senang, sebagian terlihat tidak, sebagian setengah senang, sebagian lagi absurds.
Kadang terhenti di satu-dua-tiga lampu merah. Jadi saksi bahwa sebuah lampu itu ternyata bisa bikin garis muka orang-orang itu menjadi sama, atau setidaknya seperti sama, sepertinya mereka semua sedang mengejar sesuatu, atau mungkin sedang di kejar sesuatu gitu yak? Ya seperti itulah.
Dan juga. Selalu ada King Of Leon yang menyala-nyala di telinga.
***
King Of Leon dalam I want you, Closer, Cold desert, Sex on fire, etc-etc apapun itu asalkan dari King Of Leon. Mungkin bisa dijadikan alasan kenapa hatinya selalu bisa menemukan jalan baru untuk mencatat harapan-harapan akhir dari sebuah episode yang sedang berjalan ini. Walaupun masih dalam wacana mimpi terapan, unjust may I have been weak and hardfull in the sametime. Mengutip dari katanya Eddie Vedder (Haey! Sapah yang masukin lagu ini di folder King Of Leon?). I wish I was the pedal brake you depend on, I wish I was the verb ‘to trust’ and never let you down, I wish I was a radio song the one you turned up.
Tidak bisa berhenti menggigil pas mencatatkan itu semua. Pas sampai pada satu titik yang lain: Bahwa kita tidak pernah dan tidak akan pernah tahu akhir dari episode yang kita jalani, bahwa keinginan selalu mempunyai kemungkinan sama besar untuk berbanding terbalik.
Selalu menggigil seperti seorang laki-laki di sebuah bar yang cenderung miring-miring. Atau seperti seorang laki-laki di tengah para perempuan yang cenderung menjadi pemakan segala. Atau seperti seorang laki-laki yang selalu sembunyi di ketiak Mamak-nya, selalu berlari kemeja Bapaknya, yang cenderung mengiba-iba dan barbar secara bersamaan ketika ada duri kecil di kakinya.
Mencoba menghentikan gigilan-gigilan yang nggak perlu. Yang selalu berakhir dengan mengetuk-ngetuk kepala dan beraduh-aduh karena ketukannya kekencengan. “Damn, what was Im doin’? Testing my heads capability or something?”. Sampai saat ini, untungnya, nggak sampai terlihat penyok disana-sini, setidaknya kebiasaan itu belum merusak kepala sendiri secara physically. Thanks Gods, I have you.
Ah…
Anyhoo, adakan ya ungkapan:No matter how beatifull you dreams are, you always have to wake up? Kalo itu berarti kita harus terbangun untuk menjadikan mimpi kita menjadi nyata. Tahun ini mungkin saatnya berhenti menjadi slacker yang geeky, setidaknya sekarang udah ada seseorang yang harus di perjuangkan. Di perjuangkan sampai titik dimana kita tahu bahwa yang diperjuangkan itu salah.
Sekarang saatnya nggak usah ada takut-takut lagi.
Sekarang saatnya berhenti mengharapkan ada tombol ‘backspace’ dalam hidup.
Sekarang saatnya “If there is no rainbow on her sky, I will make one by myself.” Tidak akan pernah sama mungkin warnanya. Tapi setidaknya sayah sudah mencoba membuatkannya.
Currently reading:
Posted at : 20 March 2010 ∞ 4
Udah lama nggak ada kegiatan pencatatan disini -mungkin gara-gara, akhir-akhir ini, nggak banyak yang akan di catatkannya juga. Mungkin ada, tapi catatannya lebih masalah personal, dan gak berani mencatatkannya. Mungkin terlalu banyak mencatatkannya disini “tumblr.acepbaduy.net“, yang gak usah mencatat panjang-panjang, kalo hanya untuk mengeluarkan isi hati mah-. Untungnya blog ini pun masih menyala, mengingat ternyata : Tidak ada kegiatan mencatat di blog itu selalu berbanding lurus dengan tidak ada kegiatan membayar biaya hosting juga. Hahai ^_^
Dan sekarang sedang berada di ujung ‘Jalan Raya Pos, Jalan Daendels‘-nya Pramoedya Ananta Toer. Jalannya nggak sepanjang cerita ‘Bumi Manusia’ memang, atau ‘Anak Semua Bangsa’, atau ‘Jejak Langkah’. Tapi Pram adalah Pram, nggak salah dan gak pernah salah kalo di backcover-nya tertulis: Sumbangan Indonesia untuk dunia.
Dan emang, no offense, of my two cents (or less heuheuheu), kayaknya salah satu sumbangan bangsa kita kepada dunia adalah seorang Pramoedya Ananta Toer.
Anyhow, dari ‘Jalan Raya Pos’ -yang membentang sepanjang utara pulau Jawa, Anyer-Panarukan, sepanjang 1000 km?-, akhirnya bisa memaknai bahwa kita, bangsa kita, Indonesia, dari dulu, sering, terlalu sering malah, mengirimkan berita-berita buruk kapada dunia.
Seperti katanya Pram juga: Ada genosida pada ribuan orang-orang pribumi, 12.000 orang pribumi dalam setahun kalo gak salah baca. Hanya untuk sebuah ‘Jalan Daendels’, hanya karena Daendels bete gara-gara Anyer-Batavia di tempuhnya dalam 4 hari, atau setidaknya, gara-gara itulah Daendels bercita-cita bikin rute sepanjang itu dengan bantuan tangan-tangan orang pribumi, orang-orang kita. Dan orang-orang kita-dulu di genosida lewat sistem cultuurstelsel untuk biaya-i semuanya.
Belum genosida-nya Jan Pieterz Coen? Westerling juga? Para Nippon? Yang melunaskan nyawa orang-orang pribumi? Yang semua sukses mengurangi populasi penduduk Indonesia, 10 kali lipat lebih sukses dari program ‘Keluarga Berencana’ yang udah di canangkan sejak dari masa pemerintahan orde baru. Tapi malah perkembangbiakan-nya semakin tak tertanggungkan sampai sekarang?
Damn it
Damn it
Damn it
Terlalu pake hati mungkin bacanya. Karena katanya temen: Itukan dulu, lain dulu-lain sekarang. Itu adalah sejarah, walaupun emang pahit tapi itu teuteup sejarah. Toh, jalannya sekarang masih ada dan kita semua memakainya, iya kan?
Hokeh, iyah, tapi masalahnya. Sejarah dunia juga akan mencatat bahwa: Ada bangsa, dimana bangsa itu berjalan di jalan yang di bawahnya tertimbun ribuan leluhurnya, dan mereka tetap bangga berjalan di atas-nya, seolah-seolah mereka sendirilah yang membuatnya.
Atau mungkin, bener katanya seorang temen yang lain: Bangsa kita terlalu lama ngeliatin pantat bangsa dunia Ke I. Jadi prestasinya cuma bisa menghasilkan generasi tua yang korup, dan generasi muda yang mabok?
Yang tua-nya gak mau ngalah dan sulit mendengar.
Yang muda-nya teriak-teriak keadilan sambil ngerusak.
Funny?
Sementara itu, dunia menonton kita, dan bertaruh. “I bet you, 1 to 3, Rambo’s is still the special ones we made!”
Funniest?
Ah ya sudahlah. Udah temperamen nulisnya, nggak akan pernah habis ngomongin semuanya. Btw, pas liat cerita-cerita, berita-berita, kejadian-kejadian, di tv akhir-akhir ini. Mungkin nggak, kalo kita sekarang sedang di genosida sama bangsa kita sendiri?
Posted at : 7 March 2010 ∞ 3

“DEAR WORLD. I’M RIGHT HERE. WHY YOU CAN’T SEE ME?”
rgds
-duy-
Posted at : 7 February 2010 ∞ 12