Blogs. { archives / bookshelf / links }

Fast Car

Darimu. Dimana aku, aku disini ^_^

You got a fast car
I want a ticket to anywhere
Maybe we make a deal
Maybe together we can get somewhere

Anyplace is better
Starting from zero got nothing to lose
Maybe we’ll make something
But me myself I got nothing to prove

_Fast Car, Tracy Chapman._

Uh. Uh. Uh. Nothing to prove eh ?

Satu Kisah Tentang Gaji

Gaji kok cuma cukup buat bayar tagihan Bank. Tagihan Bank ini, tagihan Bank itu, sampe tiga Bank, beda nama pulak.

Damn It

Nggak boleh di bilang ‘cuma kok’ sebenernya. Kesannya, sangat tidak menerimakan apa-apa yang udah di kasih sama Tuhan. Tapi ya-ituh. Kerasanya teuteup satir pas itung-itung uang yang bakal tersisa dari gaji bulan ini, hanya serpihan-serpihannya saja yang mengendap. Nggak ada yang bisa dijadikan bahan pokok untuk menggemukan saldo rekening, masih jauh, apalagi untuk uang muka rumah mah. Padahal itu salah satu wishlist-jangka panjang dalam hidup yang berangsur me-nua ini.

Ngecek saldo, pake layanan sms banking. Layanan Bank lain dari Bank tempat transfer-an orang-orang payroll (biar lebih ter-manage, maksudnya. Makanya sengaja di pisahin. Tapi jadinya ?). Dan ngeliat saldo yang tersisa. Langsung menggigil, dan nggak bisa berhenti mengerang. Liat nominal saldo yang serasa kayak nabung di celengan ayam ajah ini mah. 11-12, nggak jauh beda nominalnya sama tabungan si ade yang masih duduk di SMP !.

Damn it
Damn it
Damn it

DVD original version ‘Symphony and Metalicca’ yang di conductor-i sama MIchael Kamen, jalan-jalan akhir pekan yang selalu berakhir di bioskop, segelas dua gelas kopi lengkap dengan setengah bungkus rokok saat menunggu pertandingan liga champion di warung-nya Pak Adang, dua piring kentang goreng di sebuah cafe di jalan Braga (ini menu yang termurah di tempat itu, palingan ngabisin 25ribu perak), yang udah lalu-lalang didepan mata semenjak pertengahan bulan lalu, kalo liat gini. Luluh lantak semuanyah. *(

Mencoba bijak. Ya sudahlah, percuma misuh-misuh juga. Sekarang mah tinggal mengencangkan ikat pinggang. Oke, bulan kemarin juga udah mengencangkan ikat pinggang. So, jadi sekarang, ikat pinggangnya harus di bikinin lubang baru. Biar lebih kencang lagi mengikatnya. *(

By the way, ada kan, yang bilang. Kalo Tuhan ngasih jawaban dengan cara yang unik atas setiap pertanyaan umat-Nya. Dalam artian, Tuhan kadang memberi jawaban yang penuh dramatisasi pas suasana hati kita lagi sedih, lagi nangis. Kadang juga, jawaban-Nya terbalut dengan sense of humor yang tinggi. Pas kita lagi senang, lagi berbungah-bungah hatinya.

And somehow, nggak tahu kenapa, sekarang tiba-tiba ngerasa. Kalo Tuhan, my Alloh, Yang maha melapangkan, Yang maha pemberi rejeki, sedang ngasih jawaban atas satu dari sekian banyak pertanyaan itu. Selagi keadaan financial yang antipati terhadap nyanyian-nya Robert T Kiyosaki yang berjudul Rich dad-Poor dad.

Jum’at sore kemarin, pulang dari kerjaan. Masih menggigil ngeri sehabis liat saldo rekening tabungan, masih menahan nafas dalam-dalam liat barang-barang yang mau di beli menguap semuanya dari kelopak mata. Baca sms dari temen satu kos-kosan, yang isinya ;

“Cep, elu gajian ya ? Minjeum lah 300 rb ajah, si neng ultah uy besok, gaji gw kering.” pake tambahan singakatan “Bls cpt” di belakangnya.

Aneh, dia kan orang yang rapi soal urusan duit. Dan sekarang, K_E_L_A_B_K_A_N ?

Mungkin gak, kalo Tuhan sedang menyampaikan pesan-Nya ; Acep Ruslan, kamu tuh ya, misuh-misuh pengen di kirimin biadadari. Tuh liat, temen kamu!, yang notabene (hehehe, notabene?), sangat administratif dalam hal keuangan. Masih kelabakan di hadapkan dengan ultah pasangan mah ! Lha, kamu ?.

Well Gods, Ya Alloh. sepertinya hamba-Mu ini udah mulai bisa tersenyum, udah mulai bisa menerima. Apapun itu (yang bisa nge-bete-in terutama) pasti akan selalu ada hikmah di belakangnya. Ya, walaupun senyumnya masih agak kecut-kecut dikit.

Jadi, jadi, jadi. Pelajaran yang dapat di tangkepnya ; Selain harus hidup sederhana, dan mulai belajar bersabar. Saya juga harus mulai memikirkan: Bagaimana caranya mendapatkan perempuan yang tanggal lahirnya berada direntang waktu-tanggal 20 sampai 27. Biar kedepannya, ada alasan ‘neng,lagi tanggal tua nih A-A’ kalo dia lagi Ultah. *Gasp* . ^_^

Nggak deh…Yang penting mah kan, yang itu tadi. Nerima dengan tulus, Atau terjemahan gampangnya. Pasrah ajah dan berdoa ajah. Dan untuk bulan ini, in this case, banyak berdoa semoga sampai ke akhir bulan

***

And oh, ada catatan tambahan. Tadi sempet liat Mang-Dvd lagi ngegelar dagangan. Inglourious Basterds, The Final Destination (Whuaaa, bukannya masih tayang di bioskop ya ?), Steve Vai live in concert, sama yang bareng Eric Johnson dan Joe Satriani juga ada, film (agak) jadulnya Steven Spielberg, Schindler’s List. Digantung-gantungin dan ada tulisan ;

DISKOUNT 12RIBU/3 !.

( Kok nulisnya gitu ya, DISKOUNT ? Pake _K_ ?. Mmmhhhh. Mamaknya Lembang, Bapaknya London. Ingsun, Inggris-Sunda kayaknya si mamang ini. Hehehehe)

Seperti tanpa sadar, I means, tanpa sadar yang naturally. Minta di bungkuslah yang Inglourious Basterds, Steve Vai yang lagi solo, Schindler’s List, sama tiga dvd the best-the best performance. Ada dari Pearl Jam, punya John Mayer, sama The Doors, pastinya. Jumlah-jamleh semuanya, di tutup di 24 ribu.

Pas udah bayar. Semua-semua inikan….Uh. Uh. Uh… Yaiksss ? Ah, cuma 24 ribu ini, lagian kan walupun dompet-nya lagi sesak nafas juga, tetep ajah butuh hiburan yang layak. Kata hati, mencari pembenaran.

Well, selalu ada pembenaran di balik pemborosan. Walaupun tahu, itu yang makin bikin dompetnya asma.

Inglourious Basterds. By Quentin TarantinoSchindlers List. By Steven SpielbergSteve Vai. Live at the Astoria. LOndonPearl Jam. Lost Dog TourJon Mayer. Live In Los AngelesThe doors. The Very Best of

Pelajaran dari deretan dvd diatas :

“Kalo dompetnya lagi sesak nafas, jangan pernah berlari menghampiri tukang dvd”.

….. *(

Dvd’s (bajakan) Of The Week : Shines A light

Martin Scorsese and the Rolling Stones in : Shine A Light

shine_a_light_nya_baduy

Tak ada umpat yang membunuh, tak ada puji yang mengenjang.
Tak pandai menari dikatakan lantai berjungkat.

The Rolling Stones is still rollin’…..

It’s ain’t over, till it’s over eh, grandpapa ? Makin tua makin menjadi. Tua-tua keladi. ^_^

Pemuda Pujaan

Besok tanggal 28 Oktober. Hari sumpah pemuda. Nggak tahu kenapa, tiba-tiba jadi inget lagu karaoke-an nya si Gagan.

Pemuda Idaman, Tarling Dermayon. By Eti Buton

Selamat Hari Sumpah Pemuda. Jadilah pujaan, pemuda-pemudi Indonesia. Biar dadi rebutan. ^_^

Kelas Kehidupan, Wew ?

Kata siapa life begin at 40th ? Setidaknya buat gua, hidup itu dimulai sejak umur 28 kurang 2 bulan kemaren. Tepatnya, hidup itu di mulai sejak 28 kurang 2 bulan di sebuah acara seorang temen yang diadakan di sebuah lounge, di Parisj Van Java mall.

Sabtu siang kemarin, sehabis makan di rumah makan-nya Ibu Murni, which taste of telor dadarnya selalu tepat menghujam di lidah, dan akan dijadikan sebagai syarat baku, salah satu kriteria untuk memaknai apa dan seperti apa istri solehah itu. Dalam artian, istri solehah yang dapet dimaknai secara low context, secara real yang kerasa di lidah.

Btw, out of the plots. Kelihatan dangkal nggak, kalo nyari pasangan hidup pake rasa dadar telor sebagai salah satu standarisasi-nya ? Kalo nggak. Ibu-ibu masaklah telor dadar se-nendang mungkin, datanglah ke Bandung, jodohmu ada disana. Hehehe….

Lanjut, lalu. Terima pesan pendeknya seorang teman, yang sedang berada di sebuah acaranya temen, bisa disebut kenal baru sebenernya dengan temen yang punya hajat ini.

“Cep, kesinilah, ke pvj, lagi rame-rame nih, di anu-anu-anu lounge, ditunggu banget”

Penasaran dengan uang yang dibawa. Kembalian makan ada 14 ribu, merogoh di saku ada 20 ribu, dan didompet 20 ribu juga. Akhirnya, okelah datang kesana. Walaupun dengan perbekalan yang berbahaya untuk datang ke sebuah lounge and cafe sebenernya, tapi kan ini undangan, nggak baik menolak undangan.

Sampe disana, remeh temeh, mengucapkan selamat hari jadi. Terus duduk di sofa yang menyudut, efek temaram lampu dan kepulan asap rokok selalu begitu menyenangkan. Lagian gua suka efek remang-remang, sangat Al Capone, sangat The Untouchable.

Pas memperhatikan para undangan yang datang. Yang laki-laki, sebaya-sebayanya sebenernya. Tapi karena kustom yang mereka pakai. Begitu rapih, semi formal dengan blazer Hugh Grant wanna be sama rambutnya yang kebanyakan rapih-wet looks, sebagian mendekati Harmoko hair cuts. Jadinya mereka kelihatan 2-3 tahun lebih tua, or kalo boleh jujur, 3-4 anak tangga lebih mapan.

Dan yang perempuan. Jenis sosialita (atau Lolita gitu ya di sebutnya), begitu anggun walaupun nggak cakep-cakep amat sebenernya. Kayak di cerita Ugly Duck-Beauty Swan, hanya saja transformasi dari bebek ke angsanya di lewat, tau-tau jadi putri ajah.

Dan juga mata mereka-yang so clean and so bright, juga bibir mereka-yang just made for kisses and for laughter only kayaknya, juga gesture tubuh dan kelembutan kulit mereka. Bikin kepalanya bertanya ;

“Diem dimana mereka selama ini ?”
“Apakah mereka suka berkeringat, kalo iya, apakah keringatnya karena bekerja atau karena spa atau kecapean shoping ?” Dan
“Berapa banyak Ibu lalat yang menjanda, gara-gara para suami lalat mencoba nemplok dikulit mereka dan terpleset, trus R-I-P ?” Poor Ibu lalat, masa idah-nya kan 4 bulan 10 hari buat berkembang biak lagi. Hehehe

Somehow, dengan sidik muka yang penuh minyak, dengan kostum ini ( t-shirt and jeans as usual), dengan tampilan sekarang ini. Walaupun nggak salah kostum sekalipun, tiba-tiba ngerasa ” Ini mah bukan kelas gua atuh !” “Terlalu Wah” “Too luxurious”. Dan kayaknya batasan kelas itu telihat jelas di depan mata, walaupun iya, kita berasal dari Adam dan Hawa yang sama. Tapi harus diakuin, kita adalah hasil dari produk yang timpang.

Latar belakang hidup kita berasal, latar belakang pendidikan yang kita dapat, dan latar belakang dari menengah ke atas atau dari menengah kebawah kita di cetak, dari cetakan tanah biasa atau dari cetakan emas dapat dilihat zoom-in dari sini.

I knew, thats my Gods, My Alloh-The greats who create heaven and earth-. Nggak akan suka jika ada umat-nya yang membedakan dirinya sendiri atas dasar busana, atas dasar susah dan senang, atas dasar pintar dan bodoh, atau atas dasar berapa banyak saldo kita di Bank. Semua itu gua tahu, udah tahu di luar kepala malahan.

Mungkin, kalo lagi pas ada di mesjid, pas ada di acara ke-agama-an, dan atau dimanapun tapi bertemakan religius. Bolehlah matanya akan aman terlindungi dari kilatan gemerlap lampu dunia. Tapi pas ada di ‘lapangan’ ini, berada di tengah-tengah para produk cetakan emas ini ? Kayaknya akan susah untuk menyangkal teori-kenyataan-hidup, dari 2 buah buku yang di pinjem sama si Hardi lebih dari 6 bulan (Woi, balikin woi !). Orang Miskin Di Larang Sakit, Orang Miskin Di Larang Sekolah.

Yang inti dari buku itu, yang bisa ditangkap, dalam bahasa gua adalah “Bahwa bukan manusia yang menciptakan kasta/kelas tapi uang manusia-lah yang memaksa terciptanya kasta/kelas itu sendiri”. And anyhow, at this time, in my ideas about kasta/kelas. Please, don’t argue about : Kasta is wrong or Kasta is right, kasta is being or kasta is nothing. Coz sometime, its just about simple reality

Honestly think about it, about that I’m not in the same class as they are. Ya walaupun mereka juga dari tanah dan akan balik lagi ke tanah juga, dan selalu ada harapan atau diharapkan sama salah satu dari angsa-angsa itu sebenernya. I wish. Hehehehe…

Sampe sekarang isu-isu perbedaan kelas itu masih mengganjal. Dan apakah hidup ini baru di mulai dengan mulai memikirkan perbedaan-perbedaan kelas itu. Perbedaan pendapatan, perbedaan status sosial. Yang mana, mau nggak mau, suka nggak suka, mempengaruhi cara pikir tentang siapa kita ini sebenernya ?. Atau cara kita memandang dan dipandang oleh seseorang ?

I thought I started to think every moments of my life, every little moments of my life. Wishing to keep as close to the truth as possible. And found many perspective of life. Dan harus mengutip dari One Autumn Night-nya Maxim Gorky “I seem many crate, try to digging it, I must confess that apparently I was so deeply engaged in digging under the crate that I completely forgot about everything else except this one thing : What could be inside that crate ?”

Mmmmhhh, hidup ini beneran baru di mulai kayaknya…Atau emang kebanyakan baca kisah-kisah dari para penulis besar Rusia ?

← Before After →